MASJID DARUL ARQOM - Suasana subuh di Masjid Darul Arqom, Jl. KH. Wachid Hasyim, Pasuruan pagi ini (1/3/2026) terasa lebih sejuk dari biasanya. Di hadapan jamaah, Ust. Bambang Purwiyono membedah sebuah hakikat kehidupan yang universal namun sering terlupakan:
Bahwa setiap makhluk hidup sejatinya menempuh jalan puasa.
Ust. Bambang menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual menahan lapar bagi manusia, melainkan hukum alam yang juga dijalani oleh binatang untuk mempertahankan keberlangsungan hidup atau mencapai derajat yang lebih tinggi.
Puasa Ular: Sekadar !Ganti Kulit
Analogi pertama yang diangkat adalah puasa sang ular. Ketika ular merasa tubuhnya sudah tidak muat lagi dalam kulit lama, ia akan berdiam diri dan berpuasa. Namun, ada catatan kritis di sini:
Proses: Ular berpuasa hanya untuk melepaskan kulit luar.
Hasil: Setelah puasa selesai, warna kulitnya mungkin lebih cerah, namun sifat dan bentuknya tetap sama.
Karakter: Ular yang sebelum puasa suka memangsa katak/binatang, buas, setelah puasa tetap akan mencari katak, binatang lainnya/buas. Namanya tetap ular, caranya melata tetap sama, dan bisanya tetap mematikan.
"Inilah simbol puasa yang hanya bersifat lahiriah. Ganti casing, tapi tidak ganti isi," ujar Ust. Bambang di hadapan jamaah yang menyimak takzim.
Puasa Kupu-Kupu: Sebuah Metamorfosis Total
Berbanding terbalik dengan ular, ulat yang bertapa menjadi kepompong menunjukkan hakikat puasa yang transformatif.
Perubahan Wujud: Ia masuk sebagai ulat yang menjijikkan, namun keluar sebagai kupu-kupu yang memesona.
Perubahan Perilaku: Ulat yang rakus memakan daun hijau, setelah puasa (menjadi kupu-kupu) hanya menghisap madu/sari bunga yang bersih.
Manfaat: Jika ulat menjadi hama bagi petani, kupu-kupu justru membantu penyerbukan dan memberi manfaat bagi alam.
Refleksi untuk Manusia
Menutup kultumnya, Ust. Bambang mengajak jamaah berefleksi. Manusia akan segera memasuki bulan Ramadan, momen di mana kita semua diwajibkan "bertapa".
Pertanyaannya: Kita ingin menjadi "Alumni Ular" atau "Alumni Kupu-Kupu"?
"Puasa yang berhasil adalah puasa yang tidak hanya mengubah penampilan luar atau sekadar menahan lapar, tetapi puasa yang mampu mengubah watak buruk menjadi mulia, serta meningkatkan derajat kemanfaatan kita bagi sesama."
Pagi ini di Darul Arqom, pesan itu menggantung di udara: Puasa bukan tentang bertahan dalam kelaparan, tapi tentang keberanian untuk berubah menjadi pribadi yang baru dan lebih indah.
Penulis : Suharsono

0 Komentar