PCM PANGGUNGREJO - Suasana Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan, pada Ahad pagi (11/1/2026) tampak berbeda. Di tengah rutinitas ibadah, para jamaah mendapatkan siraman rohani sekaligus edukasi kesehatan yang krusial. Dalam kegiatan Pengajian Ahad Pagi tersebut, seorang praktisi kesehatan Dokter Fahmi yang juga pengurus MUI Kota Pasuruan hadir memberikan perspektif mendalam mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung sebagai modal utama dalam beribadah.
Jantung: Organ yang Tak Pernah Berhenti Berkhidmat
Dalam paparannya, sang dokter mengingatkan bahwa jantung adalah organ yang luar biasa "setia". Bekerja tanpa henti, jantung berdenyut rata-rata *60 hingga 100 kali per menit* untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
"Bayangkan jika jantung kita lemah. Shalat menjadi berat, puasa terasa melelahkan, bahkan aktivitas sederhana pun sulit dilakukan. Bagaimana kita bisa khusyuk jika jantung kita sedang tidak baik-baik saja?" ujarnya di hadapan jemaah yang antusias.
Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung bukan sekadar urusan medis, melainkan bentuk syukur atas amanah fisik yang diberikan oleh Allah SWT.
Waspada 'Silent Killer' dan Gagal Jantung
Edukasi ini juga menyoroti bahaya tekanan darah tinggi (hipertensi) yang sering dijuluki sebagai *silent killer*. Banyak pasien yang merasa sehat-sehat saja meski tensinya mencapai angka 200, namun tiba-tiba ambruk karena komplikasi.
Selain hipertensi, dr. Fahmi menjelaskan kondisi Gagal Jantung. Kondisi ini terjadi ketika jantung tidak lagi mampu memompa darah secara maksimal. Efeknya berantai: paru-paru terasa sesak, tubuh cepat lelah, hingga pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.
"Seringkali pasien salah mengira sesak napas sebagai asma, padahal itu teriakan dari jantung yang sudah tidak kuat memompa. Itulah pentingnya kontrol rutin meski tidak ada gejala," tambahnya.
Gaya Hidup: Antara 'Olah Raga' dan 'Siksa Raga'
Terdapat empat faktor risiko utama yang ditekankan dalam pengajian tersebut:
1. Rokok: Baik perokok aktif maupun pasif memiliki risiko kerusakan pembuluh darah yang sama.
2. Pola Makan: Tingginya konsumsi garam dan minyak yang menjadi pemicu utama kolesterol serta darah tinggi.
3. Aktivitas Fisik: Untuk lansia (usia 45-50 tahun ke atas), olahraga tidak perlu berat. Jalan kaki di bawah sinar matahari pagi adalah pilihan terbaik. "Prinsipnya adalah *olah raga*, bukan siksa raga. Jangan memaksakan diri jogging berlebihan jika usia sudah tidak memungkinkan," pesannya.
4. Manajemen Stres: Stres yang tidak terkelola akan mengeluarkan hormon negatif yang merusak pembuluh darah.
Komunikasi dan Rasa Syukur sebagai Obat
Menariknya, narasumber juga menyelipkan pesan sosial-psikologis. Ia menyebut bahwa banyak penyakit fisik berawal dari beban pikiran yang tidak tersalurkan. Komunikasi yang baik antara suami, istri, dan anak menjadi kunci kesehatan mental.
"Kehidupan kita ini memang melelahkan, tapi obatnya adalah syukur dan sabar. Saat dapat rezeki bersyukur, saat dapat musibah bersabar. Jangan lupa juga untuk mencukupi kebutuhan Vitamin D dengan berjemur, karena itu murah dan tersedia gratis dari Allah," pungkasnya.
Kegiatan ini diakhiri dengan pesan agar jamaah tidak hanya mengejar kesehatan spiritual melalui pengajian, tetapi juga menjaga kesehatan jasmani agar dapat beribadah dengan sempurna hingga usia senja. (*)
Firnas Muttaqin
---

0 Komentar