MASJID AT TAQWA – Suasana khidmat menyelimuti Masjid At-Taqwa Jagalan pada Rabu malam, 17 Februari 2026. Di sela riuh rendah ibadah Ramadan, Ust. Drs. H. M. Nuryasin, M. PdI. menyampaikan pesan mendalam dalam kultum bakda tarawih mengenai hakikat penciptaan manusia sebagai makhluk "tengah-tengah."
Dalam uraiannya, beliau menekankan bahwa desain spiritual dan sosial manusia bukanlah untuk menjadi ekstrem, melainkan menjadi penyeimbang.
Manusia dalam Garis Moderasi
Menurut Ust. Nuryasin, Allah SWT menciptakan manusia dengan komposisi yang unik. Kita tidak diciptakan seperti malaikat yang murni cahaya tanpa nafsu, namun tidak pula dibiarkan menjadi seperti binatang yang hanya dikendalikan insting.
"Manusia itu berada di posisi tengah
. Kita tidak boleh terlalu condong ke kiri, tidak pula terlalu condong ke kanan. Inilah esensi dari Wasathiyah atau moderasi," ujar beliau di hadapan para jamaah.
Bahaya Kutub Ekstrem
Beliau menjelaskan bahwa kecenderungan yang terlalu ekstrem—baik dalam beragama maupun dalam urusan duniawi—justru akan merusak hakikat kemanusiaan itu sendiri:
Terlalu "Ke Kanan": Bisa terjebak pada fanatisme buta atau mengabaikan realitas sosial demi ritualitas semata.
Terlalu "Ke Kiri": Berisiko hanyut dalam materialisme dan meninggalkan nilai-nilai spiritualitas yang menjadi kompas hidup.
Menjaga Keseimbangan di Era Modern
Pesan ini terasa sangat relevan dengan tantangan zaman sekarang. Ust. Nur Yasin mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum melatih "otot keseimbangan" tersebut. Hidup yang selamat adalah hidup yang mampu menempatkan dunia di tangan dan akhirat di hati—bergerak di jalur tengah yang lurus (Sirathal Mustaqim).
"*Keseimbangan inilah yang akan melahirkan ketenangan (tuma'ninah). Jika kita mampu menjaga posisi tengah ini, maka kita akan menjadi pribadi yang adil, baik terhadap diri sendiri, sesama, maupun kepada Sang Pencipta,*" pungkasnya.
Oleh Suharsono (Ketua PCM Panggungrejo).

0 Komentar