MASJID DARUL ARQOM - Suasana syahdu menyelimuti Masjid Darul Arqom di Jalan KH. Wachid Hasyim pada Kamis subuh (5/3/2026). Di hadapan para jamaah, Ust. Heru Winarno, M.BA., menyampaikan materi kultum yang menggugah kesadaran spiritual tentang hakikat dosa dan luasnya ampunan Allah SWT.
Namun, ada satu pesan mendalam yang ditekankan: Ampunan tidak serta-merta menghapus "bekas" atau rasa malu seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.
Luasnya Ampunan, Besarnya Penyesalan
Ust. Heru membuka ceramah dengan mengingatkan bahwa Allah SWT adalah Al-Ghafur (Maha Pengampun). Pintu taubat terbuka lebar bagi siapa saja yang datang dengan penyesalan yang tulus. Namun, mengutip pendapat para ulama salaf, beliau menjelaskan bahwa pengampunan dosa memiliki sisi psikologis dan spiritual yang harus direnungkan.
"Benar bahwa Allah menghapus dosa kita, tetapi bagi orang yang beriman, rasa malu karena pernah bermaksiat kepada-Nya tetap akan membekas di hati," ujar Ust. Heru.
Pendapat Ulama: Antara Ampunan dan Rasa Malu
Dalam bahasannya, Ust. Heru menyitir pandangan Imam Hasan al-Basri dan ulama lainnya mengenai kondisi seorang mukmin yang telah bertaubat. Ada beberapa poin krusial yang disampaikan:
Rasa Malu di Akhirat: Sebagian ulama berpendapat bahwa meski seseorang tidak disiksa atas dosanya yang telah diampuni, catatan tersebut mungkin tetap diperlihatkan kepadanya di hari kiamat sebagai bentuk pengakuan, yang menimbulkan rasa malu yang luar biasa.
Efek Terhadap Hati: Dosa laksana noda hitam. Meski noda itu telah dicuci, terkadang "bekas" lipatannya masih terasa dalam bentuk kurangnya kekhusyukan atau rasa rendah diri yang berkepanjangan di hadapan Allah.
Istiqomah adalah Kunci: Pengampunan bukan berarti lampu hijau untuk kembali bermaksiat. Justru, pengampunan menuntut rasa syukur yang diwujudkan melalui ketaatan yang lebih kuat.
Refleksi Akhir
Ceramah ini menjadi pengingat bagi warga Pasuruan yang hadir bahwa taubat bukan sekadar menggugurkan kewajiban atau menghindari siksa neraka. Lebih dari itu, taubat adalah upaya memperbaiki hubungan yang sempat retak dengan Sang Khalik.
Ust. Heru menutup kultumnya dengan membaca istighfar dan do'a kafatul majlis serta pesan agar jamaah tidak meremehkan dosa sekecil apa pun, karena meski ampunan Allah seluas samudra, setiap perbuatan akan meninggalkan jejak dalam perjalanan spiritual manusia.

0 Komentar