Featured Widget

6/recent/ticker-posts

Ikhlas Bukan Hanya Teori, Tapi Perjuangan Tiada Henti Demi Diterimanya Amal

PCM PANGGUNGREJO - Dalam khutbah Jumat (28/11/2025) yang berlangsung khidmat di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, Ustadz Muhammad Raizel Zaidan Al Rizki menyampaikan pesan mendalam tentang keikhlasan. Santri dari SPEAM Pasuruan ini menekankan bahwa ikhlas adalah ruh dari setiap ibadah dan kunci diterimanya amal oleh Allah SWT, sekaligus sebuah medan perjuangan yang penuh dengan jebakan dan tipu daya.

Ustadz Raizel membuka khutbah dengan mengutip firman Allah dalam QS. Adz-Dzariyat: 56, yang menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah. Namun, beliau memperluas pemahaman ibadah tersebut.

“Tapi bukan berarti selama 24 jam kita hanya boleh menghabiskan waktu sholat atau membaca Al-Quran saja. Namun sekolah, belajar di pesantren, bekerja, membantu orang, berbaik sangka kepada teman, makan, minum dan lain sebagainya, bisa juga bernilai ibadah tergantung niat kita,” serunya kepada jamaah.

Tiga Tingkatan Niat: Dari Pedagang hingga Orang Merdeka

Mengutip kitab *Nuzhatul Majalis*, Ustadz Raizel memaparkan tiga tingkatan niat dalam beramal, sebuah gradasi yang membedakan kualitas spiritual seorang hamba. Tingkat terendah adalah seperti pedagang, yang beramal dengan mengharap keuntungan pahala. Tingkat kedua adalah seperti budak, yang beramal karena takut akan neraka. Adapun tingkatan tertinggi adalah orang yang merdeka, yang beramal semata-mata karena Allah. Inilah puncak dari ikhlas.

“Orang yang ikhlas diibaratkan... tangan kanan memberikan sesuatu namun tangan kirinya tidak sampai tahu,” ujarnya, menggambarkan bagaimana amal kebaikan seharusnya disembunyikan serapat-rapatnya.

Kisah Peringatan: Ahli Ibadah yang Tergoda Dua Dinar

Sebagai peringatan akan betapa rentannya keikhlasan, Ustadz Raizel menceritakan sebuah kisah Israiliyat dari kitab *Ihya' Ulumuddin* Imam Al-Ghazali. Kisah ini tentang seorang ahli ibadah yang gagal mempertahankan niatnya.

Awalnya, niatnya murni karena Allah: menebang pohon yang disembah kaum musyrik. Iblis pun menghadang. Berbagai bujukan gagal, hingga Iblis menawarkan strategi baru: iming-iming dua dinar setiap malam. Ahli ibadah itu tergoda. Ia membayangkan bisa terus beribadah tenang sambil menerima uang, sementara pohon itu akan ditebang oleh "malaikat" lain di kemudian hari.

“Ia terbuai dengan bujuk rayu syaitan,” tegas Ustadz Raizel.

Ketika Iblis mengingkari janji dan uang tidak lagi datang, sang ahli ibadah marah. Namun, kemarahan ini bukan lagi karena Allah, melainkan karena janji dua dinar yang tidak ditepati. Inilah titik kekalahannya. Niatnya yang semula ikhlas telah ternoda oleh kepentingan dunia.

“Iya, kalau kemarin kamu marah sebab niat hatimu murni, ikhlas karena Allah. Namun pada hari ini, kamu marah bukan karena Allah... Oleh karena itu, aku bisa mengalahkanmu,” kata Ustadz Raizel menirukan jawaban Iblis dalam kisah tersebut.

Ikhlas adalah Susu Murni di Tengah Kotoran

Untuk mempermudah pemahaman, sang ustadz mengibaratkan ikhlas laksana susu murni yang disebut dalam Al-Quran. “Susu keluar dari perut hewan, yang mana dalam perut hewan terdapat darah dan kotoran, namun, susu sama sekali tidak tercampur dengan dua kotoran tersebut,” paparnya. Demikian pula, amal perbuatan harus keluar murni untuk Allah, tanpa terkotori oleh riya', pujian, atau iming-iming dunia.

Peringatan Akhir: Semua Bisa Binasa, Kecuali yang Ikhlas

Khutbah ditutup dengan sebuah hikmah yang menggetarkan, yang menyatakan bahwa semua manusia, orang berilmu, dan orang yang beramal sekalipun akan binasa, kecuali mereka yang ikhlas. Namun, peringatan terakhir justru paling tajam: “Mereka yang ikhlas, masih dalam kekhawatiran nyawa.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa keikhlasan bukanlah gelar yang permanen, melainkan kondisi hati yang harus terus dijaga, diperjuangkan, dan dimurnikan hingga detik terakhir nafas. Sebuah pesan yang mengingatkan setiap muslim untuk senantiasa mawas diri dan memohon pertolongan Allah agar dapat mempertahankan kemurnian niat dalam setiap langkah hidupnya. (*)


Firnas Muttaqin 

---

Posting Komentar

0 Komentar