Nama Otto Iskandardinata mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia karena wajahnya pernah menghiasi lembaran mata uang Rp20.000 dan namanya abadi sebagai ruas jalan utama di berbagai kota, termasuk di Sumatera Barat yang memiliki keterikatan kuat dengan semangat perjuangan Muhammadiyah. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa pahlawan berjuluk "Si Jalak Harupat" ini adalah seorang guru Muhammadiyah yang memiliki nyali luar biasa dalam melawan ketidakadilan.
Langkah perjuangannya bermula dari dunia pendidikan, sebuah jalan yang ia yakini sebagai kunci kemerdekaan. Lahir di Bojongsoang, Bandung, pada 31 Maret 1897 dari keluarga bangsawan, Otto mendapatkan hak istimewa untuk menempuh pendidikan terbaik hingga ke sekolah guru. Kariernya dimulai sebagai pengajar di HIS Banjarnegara sebelum akhirnya kembali ke Bandung. Ia percaya bahwa bangsa Indonesia hanya bisa merdeka jika menjadi bangsa yang berilmu. Karena sikapnya yang jujur, berani, dan tidak suka basa-basi, ia dijuluki "Si Jalak Harupat"—sebutan untuk ayam jantan yang kuat, nyaring berkokok, dan selalu menang saat diadu.
Keterlibatannya dalam Muhammadiyah bermula saat ia pindah ke Batavia menjelang tahun 1928. Di sana, Otto bergabung dengan Muhammadiyah dan menjabat sebagai Kepala Sekolah AMS Muhammadiyah di Jalan Kramat Raya 49. Di sekolah inilah ia mengajak tokoh besar lainnya, Ir. Djuanda Kartawidjaja, untuk mengabdi sebagai guru. Tak hanya di bidang pendidikan, Otto juga menjadikan gedung sekolahnya sebagai tempat rapat pendirian VIJ (cikal bakal Persija Jakarta) dan aktif membakar semangat nasionalisme lewat tulisan di dunia olahraga.
Peran puncaknya bagi bangsa Indonesia terjadi di tengah pusaran persiapan kemerdekaan. Sebagai anggota BPUPK, Otto Iskandardinata adalah sosok pertama yang mengusulkan nama Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia, yang kemudian diterima secara aklamasi oleh anggota lainnya. Setelah merdeka, ia menjabat sebagai Menteri Negara yang bertugas membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR)—cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun, ketegasannya dalam menyatukan berbagai laskar pejuang justru menjadi api pemantik bagi sekelompok pihak yang memfitnahnya.
Tragisnya, pada 19 Desember 1945, Otto diculik oleh "Laskar Hitam" dan dibawa ke pantai Mauk, Tangerang. Di sanalah ia disiksa dan dibunuh, lalu jenazahnya dibuang ke laut hingga tak pernah ditemukan. Meski raganya tiada, semangat keberaniannya tetap abadi. Pada tahun 1973, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Kisah Otto Iskandardinata adalah bukti nyata bahwa seorang guru Muhammadiyah mampu menjadi "Ayam Jantan" yang kokoknya membangkitkan martabat bangsa, mulai dari ruang kelas, lapangan sepak bola, hingga panggung proklamasi.
Sumber: [Redaksi Muhammadiyah] - "Si Jalak Harupat, Otto Iskandardinata: Guru Muhammadiyah Pejuang Pemberani"
#OttoIskandardinata #SiJalakHarupat #PahlawanNasional #TokohMuhammadiyah #ZeroToHero #SejarahIndonesia #GuruMuhammadiyah #PerintisTNI #BapakBangsa #InspirasiPerjuangan #BandungPride #PersijaHistory #PSSI #BPUPK #KemerdekaanIndonesia #MinangMuhammadiyah #UlamaPejuang #IndonesianHeroes #WestSumatraConnection #HistoricalBiography

0 Komentar