Featured Widget

6/recent/ticker-posts

Logika Keimanan dan Objektivitas Sunnatullah

PCM PANGGUNGREJO - Suasana khidmat menyelimuti Masjid At Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, pada Kamis malam (20/11/2025). Di hadapan para jamaah, Ustadz Anang Abdul Malik tidak sekadar menyampaikan nasihat agama yang normatif, melainkan mengajak jamaah menyelami dialektika antara hukum alam (sunnatullah) yang objektif, kesehatan mental, dan misteri takdir Ilahi.

Dalam kajiannya, Ustadz Anang membuka wawasan tentang sifat keadilan Allah yang "objektif" dalam mengatur kehidupan dunia. Ia menekankan bahwa keberhasilan material—seperti penguasaan teknologi dan kekayaan alam—tidak semata-mata bergantung pada status keimanan ritual seseorang, melainkan pada kepatuhan terhadap mekanisme sebab-akibat dan penguasaan ilmu pengetahuan.


Objektivitas Hukum Allah dan Kualitas SDM

"Allah memiliki mekanisme yang bersifat objektif sesuai realita. Siapa pun yang menghendaki kehidupan dunia dan menguasai ilmunya, Allah tidak akan mengurangi sedikit pun hasilnya, meskipun dia kafir," tegas Ustadz Anang.

Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Hud (11): 15, yang menyiratkan bahwa barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Allah akan penuhi balasan pekerjaan mereka di dunia tanpa dikurangi sedikit pun.

Ustadz Anang memberikan contoh nyata tentang dominasi negara-negara maju seperti Amerika dan Tiongkok. Menurutnya, penguasaan mereka atas sumber daya bumi adalah hasil dari tingginya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ia kemudian mengutip potongan ayat:

"...Annal ardha yaritsuha 'ibadiyas sholihin."

("...bahwa bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.") — QS. Al-Anbiya (21): 105

Dalam konteks ini, Ustadz Anang menafsirkan kata "saleh" sebagai kapabilitas atau kualitas. "Kenyataannya sekarang bumi dikuasai siapa? Mereka yang memiliki SDM tinggi. Allah itu Maha Adil, hukum-Nya di dunia bersifat konstan," ujarnya.

Otak Manusia, Pilihan Sadar, dan Ancaman Neraka

Beralih ke dimensi manusia, Ustadz Anang menjelaskan bahwa manusia diciptakan sempurna dengan perangkat akal (prefrontal cortex) untuk menimbang dan memutuskan. Oleh karena itu, masuknya manusia ke neraka adalah akibat dari tidak digunakannya potensi tersebut, sebagaimana disinggung dalam QS. Al-A’raf (7): 179:

"Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)..."

"Kenapa sampai bunuh diri atau berbuat jahat? Karena 'qalbu' atau perangkat berpikirnya tidak didayagunakan. Padahal Allah sudah memberikan instrumen yang canggih," jelasnya.

Kesehatan Preventif: Jangan Mencelakakan Diri

Ustadz Anang juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan sebagai bentuk syukur. Ia mengkritik kebiasaan pola hidup buruk, seperti merokok atau mengonsumsi makanan tidak sehat, yang secara sadar merusak tubuh. Ia mengingatkan jamaah dengan ayat:

"Wala tulqu bi aidikum ilat-tahlukah."

("Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.") — QS. Al-Baqarah (2): 195.

"Tubuh kita sebenarnya punya kemampuan menyembuhkan diri sendiri (self-healing) jika kita tidak menzaliminya. Ajaran Islam itu preventif, menjaga sebelum sakit," tambahnya sembari menceritakan pengalaman pribadinya menggunakan obat herbal sederhana.

Perdebatan tentang Intervensi Ilahi

Sesi kajian menjadi lebih hidup ketika salah seorang jamaah mengajukan pertanyaan kritis. Jamaah tersebut mempertanyakan, jika hukum Allah berjalan mekanis dan objektif, di mana letak peran doa dan pertolongan gaib ("intervensi") Allah?

Menanggapi hal ini, Ustadz Anang memberikan jawaban yang menyejukkan. Ia mengakui adanya hukum alam yang eksak, namun menegaskan bahwa doa memiliki jalurnya sendiri dalam dimensi yang abstrak. Ia merujuk pada janji Allah:

"Ud'uni astajib lakum."

("Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.") — QS. Ghafir (40): 60.

Ia mengisahkan riwayat tentang umat terdahulu yang nasibnya berubah bukan karena hukum kausalitas semata, melainkan karena kekuatan sedekah yang "memaksa" rahmat Allah turun melebihi hitungan matematis.

"Allah berfirman dalam sebuah riwayat, 'Dia memintaku satu kali, tapi dia memberi (sedekah) berkali-kali. Bagaimana Aku bisa mencabut nikmat-Nya?'. Artinya, kepatuhan dan kedekatan seorang hamba bisa menghadirkan keajaiban di luar nalar manusia," pungkas Ustadz Anang menutup kajiannya.

---

Firnas Muttaqin

Posting Komentar

0 Komentar